Hidupkan Kembali Warisan Budaya Sulut, Gubernur Yulius Buka Rona Budaya Sulut 2026

Spread the love

zonanesia.com MANADO — Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara memasuki babak baru setelah menjalani revitalisasi dan diresmikan kembali pada Mei 2026. Kini, gedung bersejarah yang terletak di Jalan W.R. Supratman Nomor 72, Kelurahan Lawangirung, Kota Manado, tersebut dipercaya menjadi panggung utama pelaksanaan Rona Budaya Sulawesi Utara 2026.

Festival kebudayaan yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Utara itu resmi dibuka pada Sabtu (5/9/2026).

Pembukaan dilakukan oleh Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, S.E., bersama Ny. Anik Fitri Wandriani. Prosesi pembukaan turut didampingi Wakil Gubernur Sulawesi Utara Dr. Johannes Victor Mailangkay dan Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara Tahlis Galang, S.IP., M.M.

Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik Provinsi Sulawesi Utara Dr. Zainudin Saleh Hilimi, S.E., M.E., Ak., CA., jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta sejumlah pejabat dan undangan lainnya.

Kehadiran berbagai unsur pemerintahan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap penguatan kebudayaan sebagai salah satu sektor penting dalam pembangunan daerah.

Dibuka dengan Musik Tradisional Tagonggong

Pembukaan Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional Tagonggong. Prosesi tersebut menjadi simbol dimulainya seluruh rangkaian festival sekaligus merepresentasikan semangat untuk terus menghidupkan dan melestarikan warisan seni serta tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Sulawesi Utara.

Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 dijadwalkan berlangsung selama hampir satu bulan. Berbagai kegiatan seni dan budaya akan dihadirkan sebagai ruang bagi masyarakat untuk mengenal, menikmati, sekaligus mengapresiasi kekayaan budaya daerah.

Festival ini tidak hanya diarahkan sebagai agenda seremonial dalam rangka memperingati HUT Provinsi Sulawesi Utara. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat, seniman, komunitas budaya, generasi muda, serta pelaku ekonomi kreatif.

Museum Negeri Jadi Ruang Publik Kebudayaan

Pemilihan Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara sebagai lokasi utama Rona Budaya memiliki makna strategis.

Pasca revitalisasi, museum diharapkan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan perawatan benda-benda bersejarah, tetapi berkembang menjadi ruang publik yang aktif dalam mempertemukan sejarah, seni, tradisi, seniman, komunitas, dan masyarakat.

Pelaksanaan festival di kawasan museum juga menjadi momentum untuk menjawab kebutuhan para pegiat seni dan budaya terhadap ruang ekspresi yang layak.

Dengan tersedianya panggung kebudayaan tersebut, para seniman, komunitas budaya, generasi muda, dan pelaku ekonomi kreatif memiliki ruang yang lebih luas untuk menampilkan karya sekaligus mengembangkan kreativitas.

Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Sulut

Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 sekaligus menjadi momentum memperkenalkan keberagaman budaya Sulawesi Utara kepada masyarakat luas.

Sulawesi Utara memiliki kekayaan tradisi yang tumbuh dari berbagai daerah dengan karakter, sejarah, kesenian, dan nilai-nilai budaya yang beragam. Kekayaan tersebut merupakan bagian penting dari identitas daerah yang perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola kehidupan masyarakat, keberadaan ruang-ruang kebudayaan dinilai semakin penting. Festival seperti Rona Budaya diharapkan dapat mempertemukan generasi muda dengan berbagai bentuk kesenian dan tradisi daerah secara langsung.

Dengan demikian, budaya tidak hanya dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat masa kini.

Menuju Ekosistem Kebudayaan Berkelanjutan

Berlangsungnya Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 diharapkan semakin menghidupkan Museum Negeri sebagai salah satu pusat aktivitas kebudayaan di daerah.

Masyarakat nantinya tidak hanya datang ke museum untuk melihat koleksi sejarah, tetapi juga dapat menikmati berbagai pertunjukan seni, mengenal tradisi, berinteraksi dengan komunitas, serta menyaksikan kreativitas para pelaku budaya dan ekonomi kreatif.

Pada akhirnya, Rona Budaya Sulawesi Utara 2026 bukan sekadar perayaan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara. Festival ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah sekaligus membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan.

Melalui ruang ekspresi, apresiasi, dan interaksi yang terus dihidupkan, warisan leluhur diharapkan tidak berhenti sebagai catatan sejarah, tetapi tetap tumbuh, berkembang, dan mendapat tempat di hati generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *