BOLTIM, zona-nesia.com – Ketua Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Hendra Abarang, dinilai tidak lagi layak memimpin organisasi tersebut.
Ia dituding telah mencoreng marwah APRI Boltim dengan dugaan penyalahgunaan organisasi untuk kepentingan pribadi.
Penilaian keras itu disampaikan Ketua Umum Ormas Benteng Nusantara, Steven Kembuan, MA, kepada media ini, Senin (26/1/2026).
Menurut Steven, Hendra Abarang diduga kerap menjual-jual nama aparat penegak hukum dengan membawa nama APRI Boltim, termasuk menyebut Kapolres Boltim, Dandim Bolmong, hingga Direktur Reskrimsus Polda Sulawesi Utara.
“Hendra Abarang tidak mampu menjaga marwah asosiasi. Ia membawa-bawa dan menjual nama pejabat penegak hukum dengan mengatasnamakan APRI Boltim,” tegas Steven.
Steven mengungkapkan, pihaknya mengantongi rekaman percakapan suara berdurasi sekitar 54 detik yang diduga kuat melibatkan Hendra Abarang.
Dalam rekaman suara tersebut, Hendra Abarang diduga meminta sejumlah uang hingga ratusan juta rupiah dengan dalih penyelesaian konflik dan pencabutan laporan polisi.
Dalam rekaman suara tersebut, Hendra Abarang terdengar mengatakan:
“Bro angka telepon, napa ajudan ada ba telepon angko so di polres mo cabu laporan, kong depe rembeng pati mo geser pa Kapolres bagimana itu? Masa mo cabu laporan damai bagitu saja kong, nda ada kontribusi ke polres?”
Tak hanya itu, dalam percakapan yang sama, Hendra Abarang juga menyebut soal pembagian uang ke sejumlah pihak dengan alasan koordinasi.
“Sementara mamu ada bastor masa nga pe bos nyanda? Kordinasi dengan ajudan Kapolres atau langsung ke Kapolres. Kan bro tau sandiri doi itu mo bagi. Bukan untuk Kapolres pribadi. Bagi di Dandim, bagi ke Korem, bagi ke Polda, bagi ke wartawan. Coba kordinasi dengan Jevan,” demikian bunyi rekaman tersebut.
Steven menilai, isi percakapan tersebut sangat serius dan berpotensi merusak nama baik institusi penegak hukum serta mencederai kepercayaan publik terhadap organisasi APRI.
“Ada dugaan permintaan uang agar laporan polisi bisa dicabut. Ini bukan hanya mencoreng APRI, tapi juga berbahaya karena mencatut nama aparat,” ujar Steven.
Atas dasar itu, Steven secara tegas mempertanyakan kelayakan Hendra Abarang untuk tetap menjabat sebagai Ketua APRI Boltim.
“Apakah masih layak memimpin APRI Boltim? Jangan membawa-bawa nama asosiasi untuk memperkaya diri sendiri,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar tidak sembarangan mencatut nama aparat penegak hukum, termasuk Kapolres Boltim dan Direktur Reskrimsus Polda Sulawesi Utara, demi kepentingan pribadi.
“Itu tidak bagus dan sangat berbahaya,” tutup Steven Kembuan.
