Lodewijk Paulus Tegaskan Forkopimda Jadi Kunci Stabilitas Jelang Nataru 2025–2026

Spread the love

Jakarta, zona-nesia.com – Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam) Letjen TNI (Purn.) Lodewijk F. Paulus menegaskan pentingnya peran Forkopimda sebagai garda terdepan dalam menjaga kesiapsiagaan nasional, khususnya menghadapi periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Lonjakan mobilitas masyarakat, meningkatnya aktivitas wisata, serta padatnya arus transportasi disebut membutuhkan koordinasi lintas instansi yang semakin kuat.

Hal itu disampaikan Wamenko Polkam saat menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Dalam Rangka Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, di Jakarta, Senin (1/12/2025).

Forkopimda Harus Responsif dan Adaptif

“Forkopimda harus memastikan seluruh elemen pelayanan publik di daerah berjalan efektif, responsif, dan adaptif terhadap dinamika lapangan. Sektor wisata dan transportasi juga harus menjamin standar keamanan dan kenyamanan seiring meningkatnya wisata domestik,” ujar Lodewijk.

Ia menegaskan bahwa soliditas Forkopimda menjadi syarat utama terciptanya stabilitas keamanan, kelancaran pemerintahan, dan efektivitas pelayanan publik.

Melalui koordinasi erat, komunikasi terbuka, serta kolaborasi antarpimpinan daerah, potensi kerawanan dapat diantisipasi sejak dini dan program strategis dapat dijalankan secara terpadu.

Sinkronisasi Lintas Instansi Jadi Kunci

Wamenko Polkam juga menyoroti pentingnya peningkatan koordinasi antarinstansi.

“Peningkatan koordinasi di daerah adalah kunci untuk memastikan kebijakan berjalan selaras dan tepat sasaran. Dengan komunikasi terstruktur, pertukaran data yang akurat, dan sinkronisasi lintas sektor, pemerintah daerah dapat mempercepat penyelesaian isu strategis serta menghadirkan pelayanan publik yang responsif,” ujar Lodewijk.

Peringatan Risiko Bencana Hidrometeorologi

Ia turut mengingatkan agar pemerintah daerah mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi yang diprediksi meningkat pada Desember 2025 hingga awal 2026.
Risiko tersebut meliputi hujan ekstrem, angin kencang, puting beliung, banjir, tanah longsor, hingga gelombang pasang.

“Kita harus waspada terhadap fenomena ekstrem seperti Siklon Tropis Senyar dan anomali cuaca yang memengaruhi sebagian wilayah Indonesia,” tegasnya.

Lodewijk menekankan bahwa mitigasi bencana adalah bagian integral dari strategi keamanan nasional, bukan hanya terkait sosial dan kriminalitas, tetapi juga cuaca ekstrem.

Soliditas Forkopimda Menentukan Keberhasilan Pengamanan Nataru

“Keberhasilan pengamanan Nataru dan penanganan bencana sangat bergantung pada soliditas Forkopimda. Koordinasi harus berjalan dari level kebijakan hingga implementasi teknis di kecamatan dan daerah,” tegasnya.

Rakor tersebut dipimpin Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dan dihadiri Menteri Kesehatan, Kepala Basarnas, Kepala BMKG, serta perwakilan kementerian/lembaga terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *