zonanesia.com – Rembug Kreatif (REKA) Bogor telah melaksanakan audiensi bersama Wali Kota Bogor dan jajaran perangkat daerah.
Pertemuan yang dilangsungkan selama kurang lebih 90 menit itu membahas tentang penguatan ekosistem ekonomi kreatif serta langkah strategis menuju jejaring Kota Kreatif UNESCO.
Dalam pemaparannya, Georgian Marcello selaku Ketua REKA Bogor menegaskan bahwa ekosistem ekonomi kreatif Kota Bogor telah tumbuh, yang tercermin dari kontribusi PDRB Ekonomi Kreatif Kota Bogor mencapai 5.72 persen dan serapan tenaga kerja ekonomi kreatif mencapai kurang lebih 57.000 orang.
Pada periode 5 tahun terakhir, REKA Bogor selalu konsisten dengan berbagai program penguatan kapasitas, festival lintas subsektor, aktivasi ruang kreatif, hingga pengembangan jejaring.
Bogor juga telah ditetapkan sebagai Kota Seni Pertunjukan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I), Direktorat Fasilitasi Infrastruktur Deputi Bidang Pengembangan Strategi Ekonomi Kreatif.
Penetapan ini ditandai dengan Penandatanganan Berita Acara Uji Petik PMK3I oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dan perwakilan ekosistem ekonomi kreatif Kota Bogor pada Rabu, 26 Februari 2026.
REKA Bogor menilai fondasi ekosistem yang telah terbentuk ini menjadi modal kuat untuk membawa Bogor melangkah lebih jauh ke tingkat internasional melalui jejaring Kota Kreatif UNESCO.
Wali Kota Bogor juga menyambut baik aspirasi tersebut dan menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif sejalan dengan arah visi pembangunan Kota Bogor Sains Kreatif Maju Berkelanjutan.
Kreativitas dinilai tidak hanya sebagai sektor ekonomi, tetapi juga sebagai identitas dan daya saing kota.
“Kang, Bogor arahnya ke Kota Seni Pertunjukan atau Kota Gastronomi?” tanya Ketua Reka Bogor, Georgian Marcello dalam pertemuan tersebut.
Dedie lantas menjelaskan apapun sektor yang bisa dikembangkan, selanjutnya akan kembangkan.
“Di luar kuliner ada tantangannya. Tantangannya apa? Kita beda sama Jogja, Bandung, Bali. Kita gak ada lembaga pendidikannya. Enggak ada sekolah seni, enggak ada sekolah desain grafis, enggak ada sekolah arsitektur, enggak ada sekolah multimedia, enggak ada sekolah teater, enggak ada sekolah-sekolah yang menunjang. Maka siapkanlah infrastruktur dan suprastrukturnya,” jelas Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim.
Salah satu isu strategis yang turut dibahas adalah kondisi Gedung Pertunjukan Kemuning Gading. Dedie memaparkan ada temuan keretakan pada gedung sehingga ada kemungkinan renovasi yang sudah dianggarkan tahun ini harus ditunda dan dikaji ulang.
Pemerintah Kota pun sedang dalam proses memastikan bahwa aspek keselamatan publik menjadi prioritas utama.
Sambil menunggu hasil kajian teknis, berbagai opsi optimalisasi ruang alternatif dibuka agar aktivitas komunitas dan pelaku kreatif tetap berjalan.
REKA Bogor menekankan bahwa langkah menuju jejaring Kota Kreatif UNESCO membutuhkan konsistensi kebijakan, keberlanjutan program, serta dukungan lintas sektor.
Tidak hanya pada aspek festival dan event, tetapi juga pada tata kelola, kebijakan publik, keberpihakan anggaran, dan integrasi kreativitas dalam perencanaan pembangunan kota.
Audiensi ini menghasilkan komitmen bersama untuk mempercepat konsolidasi ekosistem, memperkuat narasi kreatif Kota Bogor, serta menyiapkan tahapan strategis menuju pengajuan Bogor sebagai Kota Kreatif UNESCO.
Pemerintah Kota dan REKA Bogor sepakat bahwa kolaborasi yang solid menjadi kunci utama agar kreativitas tidak hanya tumbuh sebagai gerakan komunitas, tetapi menjadi arsitektur pembangunan kota secara menyeluruh.
***
