zona-nesia.com – Kabupaten Samosir. Pembangunan tambak (tugu) leluhur oleh keluarga mantan Wakil Bupati Samosir, Martua Sitanggang, di Huta Lumban Silo menuai keberatan dari keturunan pemilik huta. Pasalnya, leluhur Martua Sitanggang disebut bukan berasal dari Huta Lumban Silo, melainkan dari Muara, Tapanuli Utara.
Darwin Sitanggang, keturunan Opung Tongam Sitanggang Silo, menyampaikan bahwa Jayman Sitanggang—kakek Martua Sitanggang—beserta anaknya Wismar Sitanggang semasa hidup menetap hingga wafat di Huta Siregar Sibajanggut, Muara.
“Jayman Sitanggang baru tinggal di Samosir setelah mendapat izin dari kakek saya untuk membangun rumah papan di Huta Lumban Silo pada awal 1930-an,” ujar Darwin, Sabtu (28/2/2026).
Ia mengungkapkan bahwa sekitar tahun 1980-an keluarga Martua Sitanggang mengambil tanah dari tepian Binanga Siparbue, Desa Unte Munggur Lumban Sada, Muara, sebagai simbol tulang belulang leluhur untuk dimasukkan ke dalam tambak yang dibangun di Huta Lumban Silo.
“Kami tidak mengetahui kapan tambak itu dibangun karena saat itu tidak ada keturunan kami yang tinggal di huta tersebut,” katanya.
Darwin menegaskan bahwa berdasarkan adat Batak Samosir, hanya pemilik tanah dan keturunannya yang berhak membangun tambak dan dimakamkan di wilayah huta. Ia menyebut Opung Tongam Sitanggang sebagai pemilik sah Huta Lumban Silo.
“Wismar Sitanggang dan Martua Sitanggang bukan keturunan Opung Tongam Sitanggang, sehingga tidak berhak membangun tambak di Huta Lumban Silo,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tidak dilaksanakannya adat Batak secara penuh dalam proses memasukkan simbol tanah leluhur ke dalam tambak. Menurutnya, upacara mangokal holi panakok saring-saring merupakan adat tertinggi dalam tradisi Batak Samosir sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.
Tidak adanya pelaksanaan adat tersebut dinilai menunjukkan adanya kejanggalan. Darwin menyimpulkan bahwa pembangunan tambak dilakukan meski pihak terkait menyadari bahwa Huta Lumban Silo bukan tanah leluhur mereka.
Darwin menambahkan, berdasarkan penelusuran yang dilakukan bersama keluarganya ke Muara, sejumlah keluarga Sitanggang di wilayah tersebut menguatkan bahwa leluhur Martua Sitanggang berasal dan menetap di Muara hingga akhir hayat.
“Jayman Sitanggang hanya menumpang di Huta Lumban Silo atas izin kakek saya, Opung Sindak Sitanggang,” tutup Darwin Sitanggang, pahompu panggoaran Opung Tongam Sitanggang Sipukka Huta Lumban Silo.
