Perjuangan Nenek 80 Tahun Penjual Kecil di Kotamobagu Menyentuh Sespri Presiden Deril Pandey

Spread the love

Kotamobagu, zona-nesia.com – Di media sosial, sebuah video singkat mendadak menyita perhatian. Seorang nenek terlihat tergesa mengejar dagangannya yang sedang ditertibkan.

Tidak ada teriakan. Tidak ada perlawanan. Hanya raut cemas seorang perempuan lanjut usia yang takut kehilangan satu-satunya sumber hidup.

Nenek itu adalah Nona Lamato, berusia 80 tahun. Sehari-hari ia berjualan kecil-kecilan di kawasan Gogagoman, Kotamobagu. Di usia yang tak lagi muda, berdagang bukan pilihan, melainkan kebutuhan—agar hari itu ia masih bisa makan.

Video tersebut menyebar cepat dan mengetuk nurani banyak orang. Salah satunya Deril Pandey, Asisten Pribadi Presiden Prabowo Subianto.

Dari tayangan singkat itu, Deril menangkap pesan yang menurutnya jauh melampaui urusan penertiban.

“Yang saya lihat bukan pelanggaran, tapi seorang ibu tua yang masih ingin bekerja. Itu yang membuat saya tidak bisa diam,” kata Deril Pandey.

Rasa empati itu kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata. Kamis (27/1/2026), Deril menyalurkan bantuan modal usaha kepada Nona Lamato melalui Hendra Jacob.

Tidak ada seremoni resmi atau pidato panjang. Bantuan disampaikan dengan sederhana, disertai harapan agar sang nenek dapat kembali berdagang dengan lebih tenang.

Bagi Nona Lamato, bantuan tersebut terasa begitu berarti. Tangannya tampak gemetar saat menerimanya. Matanya berkaca-kaca, namun senyum perlahan muncul di wajahnya.

“Terima kasih banyak, Nak. Tuhan yang membalas. Saya mau jualan lagi,” ucapnya lirih.

Di usia 80 tahun, Nona Lamato tidak menuntut banyak hal. Ia tidak meminta perubahan besar atau perhatian berlebihan. Ia hanya ingin menjalani hari-harinya seperti biasa—menggelar lapak, menjajakan dagangan, lalu pulang dengan cukup untuk makan.

Peristiwa ini mungkin tampak sederhana dalam skala besar sebuah negara. Namun bagi seorang nenek yang hidup dari lapak kecil, kepedulian itu berarti pengakuan atas martabat dan hak untuk bertahan.

Dari Gogagoman, sebuah kisah kecil mengingatkan kita: ketika simpati tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan, ia mampu mengembalikan harapan yang nyaris padam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *