Program MBG Picu Perputaran Ekonomi Rp32 Triliun di Daerah

Spread the love

zonanesia.com – JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki dampak ekonomi yang jauh lebih besar dari sekadar program sosial.

 

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, menilai program ini pada praktiknya menjadi stimulus ekonomi langsung yang mampu menggerakkan sektor riil di daerah.

 

Noviardi mengatakan implementasi program di Jawa Tengah menunjukkan bagaimana MBG dapat menciptakan injeksi ekonomi yang sangat besar.

 

Dengan sekitar 3.200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), perputaran anggaran program tersebut diperkirakan mencapai Rp32 triliun per tahun, bahkan melampaui kapasitas APBD provinsi yang berada di kisaran Rp27 triliun.

“Ini bukan lagi sekadar program bantuan makan. Secara ekonomi, MBG sudah bekerja seperti stimulus fiskal yang langsung masuk ke sektor produksi daerah,” ujar Noviardi, di Jakarta. Senin, 16 Maret 2026,

Ia menjelaskan bahwa sekitar 85 persen belanja program terserap oleh pemasok lokal seperti petani beras, sayur, telur, ikan hingga susu.

Artinya, sebagian besar dana negara tidak berhenti di birokrasi, tetapi langsung mengalir ke ekonomi masyarakat.

Setiap SPPG, kata Noviardi, rata-rata membutuhkan sekitar 5 ton beras per bulan. Permintaan stabil seperti ini menciptakan kepastian pasar bagi petani dan pelaku usaha pangan.

“Bagi petani, kepastian permintaan jauh lebih penting daripada sekadar subsidi. MBG menciptakan pasar yang rutin dan terukur,” katanya.

Dampaknya juga terlihat pada penciptaan lapangan kerja. Jika setiap SPPG mempekerjakan minimal 50 orang, maka potensi tenaga kerja langsung yang terserap bisa mencapai sekitar 160 ribu orang.

Selain itu, ratusan koperasi, UMKM, dan BUMDes ikut terlibat dalam rantai pasok pangan dan pengolahan makanan.

Di beberapa daerah seperti Surakarta, aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan operasional SPPG bahkan diperkirakan mampu menciptakan perputaran transaksi ratusan juta rupiah per hari.

Menurut Noviardi, efek ekonomi terbesar justru berasal dari perputaran uang tersebut di tingkat lokal.

“Ketika petani menerima pendapatan, mereka belanja lagi ke pedagang. Pedagang meningkatkan pasokan dari produsen. Siklus ini membuat uang berputar dua sampai tiga kali dalam ekonomi daerah. Inilah multiplier effect yang jarang dimiliki program sosial lainnya,” jelasnya.

Secara makro, ia memperkirakan program MBG berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi daerah hingga 0,3–0,7 persen.

Dengan baseline pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sekitar 5,7–5,9 persen, perputaran ekonomi dari program ini bisa mendorong pertumbuhan mendekati kisaran 6 persen lebih.

Meski demikian, Noviardi mengingatkan bahwa dampak ekonomi tersebut hanya akan optimal jika tata kelola program dijaga dengan ketat.

“Risikonya ada pada pengawasan pemasok, kualitas bahan pangan, dan transparansi distribusi. Jika itu tidak dikontrol, multiplier effect bisa bocor keluar daerah atau bahkan menimbulkan inefisiensi,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika dikelola dengan baik, MBG dapat menjadi model kebijakan yang tidak hanya memperbaiki gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ekonomi desa, memperluas pasar bagi petani, serta mendorong pertumbuhan UMKM pangan secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *